• Link to Facebook
  • Link to WhatsApp
  • Link to Instagram
  • Link to Youtube
Contact Us: 0274-898444 Ext.2405
Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam
  • PEMBINAAN
    • Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD)
    • Pelatihan Pengembangan Diri (PPD)
    • Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI)
    • Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI)
    • Pelatihan Dakwah Masyarakat (PDM)
  • LAYANAN
    • Informasi Ujian Remidi PNDI
    • FAQ Pembinaan Keagamaan
    • Konsultasi Keislaman
    • Formulir Pengislaman
  • DOWNLOAD
    • Buku-Buku DPPAI
    • Buku Pembinaan Keagamaan
    • Kumpulan Hadis TAFAQUH
    • Buletin Al-Islamiyah
    • Buletin Al-Rasikh
  • PROFIL
    • Tentang Organisasi
    • Struktur Organisasi
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu
Artikel Dakwah Tendik

Bolehkah Berpasrah Saat Pandemi?

Bolehkah Berpasrah Saat Pandemi?

Dwi Pranita

 

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pandemi COVID-19 ini sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun. COVID-19 ini membuat tatanan dunia berubah. Mulai dari bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, belanja dari rumah, semua dilakukan dari rumah. Semua itu merupakan beberapa bentuk ikhtiar yang dilakukan untuk mengurangi dampak dari adanya COVID-19 ini. Pemerintah-pun sudah menggunakan berbagai macam cara untuk menghentikan pandemi COVID-19 ini. Misalnya dengan membatasi kegiatan masyarakat, memberikan vaksin, memberikan bantuan untuk kalangan rakyat miskin, dan lain sebagainya.

Perlu kita ketahui bersama pula, bahwa ternyata tidak semua masyarakat berperilaku sama dalam merespon adanya COVID-19 ini. Setiap orang memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapinya. Ada yang patuh terhadap pemerintah misalnya dengan melakukan aktivitas dan kegiatan menggunakan prosedur kesehatan yang ketat – pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Namun ada pula yang tidak. Ada yang semakin taat beribadah, namun ada juga yang ibadahnya masih biasa saja. Ada yang mengganggap pandemi ini sebagai wujud konspirasi yang dibuat seseorang ataupun sekelompok orang untuk menghancurkan tatanan dunia dan mengambil keuntungan dari pandemi ini. Ada juga yang menyebarkan hoax ataupun kebohongan-kebohongan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Di tengah usaha yang dilakukan pemerintah untuk melepaskan Indonesia dari pandemi ini, ternyata ada juga sebagian orang yang malah berpasrah diri karena menganggap bahwa pandemi ini merupakan ganjaran dari Allah. Mereka menganggap bahwa hanya Allah-lah yang bisa mengambil atau meniadakan kembali pandemi ini. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk membatasi kegiatan masyarakat dan lain sebagainya malah dijadikan isu agama yang malah menambah perpecahan dan menyebabkan polemik baru. Mereka menjadi tidak mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah dan cenderung mengabaikannya. Adapun peraturan tersebut yaitu pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan mengikuti vaksin. Mereka meyakini bahwa Allah bersamanya, sehingga mereka memiliki kekuatan yang lebih untuk menghadapi masalah pandemi ini. Apapun usaha yang dilakukan menurut mereka akan sia-sia jika Allah sudah menetapkan demikian. Mereka sudah sampai pada tingkat pasrah dan berserah tanpa melakukan usaha apapun. Bagaimana hal ini menurut pendapat Islam? Bolehkah kita berpasrah saat menghadapi pandemi?

Sebagaimana firman Allah yang disampaikan dalam Q.S al-Ma’idah [5]:49 dan Q.S al-Taghabun [64]: 11 bahwa sebagai umat Islam, kita wajib mengimani dan meyakini bahwa musibah itu datangnya dari Allah dan atas izin Allah. Adapun bunyi Q.S al-Ma’idah [5]:49 tersebut adalah

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ (49)

“… Jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S al-Ma’idah [5]:49)

Sementara itu Q.S at-Taghabun [64]: 11 juga berbunyi,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (11)

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. Dari kedua ayat tersebut dapat diketahui juga bahwa Allah menimpakan musibah kepada mereka dikarenakan dosa-dosa mereka. Hal ini berlaku bagi mereka orang-orang yang fasik. Menurut Imam Ghazali dalam karyanya Kitab Mukasyafatul Qulub, fasik adalah orang yang berbuat durhaka, melanggar janji, serta keluar dari jalan hidayah, rahmat, dan ampunan-Nya. Sementara bagi mereka yang beriman, maka Allah berfirman akan memberikan petunjuk kepada hatinya,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156)

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”  (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (Q.S al-Baqarah [2]:156)

Sebagaimana orang yang diberikan petunjuk ada baiknya juga kita mengkaji firman Allah yang lain yaitu perintah untuk bersabar dalam menghadapi ujian sebagaimana bunyi yaitu,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S al-Baqarah [2]:155)

Juga dalam ayat lain Allah berfirman yang bunyinya,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ (177)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S al-Baqarah [2]:177)

Janji Allah terhadap orang yang sabar tertuang juga dalam ayat al-Qur’an surah an-Nahl [16]:96 yang berbunyi,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (96)

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S an-Nahl [16]:96)

Pandemi COVID-19 ini telah menyebabkan sebagian orang kehilangan pekerjaannya. Kehilangan orang-orang yang dicintainya. Bekerja namun mengalami potongan gaji. Bahkan tidak sedikit yang memperoleh surat pemutusan hubungan kerja. Semua sektor terkena imbas adanya pandemic COVID-19, baik sektor ekonomi, industri, pariwisata, pendidikan, dan lain sebagainya. Baik usaha besar maupun kecil pun ikut terkena dampaknya. Setiap orang diminta untuk melakukan seluruh aktivitas dari rumah sehingga mengurangi mobilitasnya di luar rumah.

Hal ini pula yang akan mengakibatkan perekonomian masyarakat menjadi terganggu. Tidak hanya itu, psikis seseorang yang sudah berkecukupan pun juga mulai terganggu. Sebagaimana berita baru-baru ini mengenai seorang artis yang tertangkap menggunakan narkoba jenis sabu, yang setelah ditanya alasannya memakai sabu adalah dikarenakan pengaruh pandemic COVID-19. Peristiwa ini memberikan kita pemahaman bahwa segala sesuatu yang menimpa kita haruslah diserahkan kepada Allah SWT. Tentu dengan adanya ikhtiar atau usaha sebaik dan semampu kita. Karena bila tidak, iman seseorang akan mudah goyah dan rapuh. Allah SWT menyuruh umat-Nya untuk bersabar, karena dengan kesabaran itulah sesungguhnya Allah Maha Dekat. Sebagaimana ayat-ayat sebelumnya yang sudah dijelaskan di atas.

Adanya peristiwa pandemi ini, mutlak memang datangnya dari Allah. Sebagai umat muslim, kita diminta untuk bersabar dalam menjalani pandemi ini. Bersabar yang dimaksud juga tidak hanya berpasrah saja tanpa melakukan hal apapun. Misalnya dengan tidak menuruti upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi pandemi tersebut. Kita diminta untuk tetap bersabar dan berusaha sebagaimana firman Allah SWT dalam al-Qur’an surah al-Ra’d [13]:11 yang berbunyi,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (11)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri.” (Q.S al-Ra’d [13]:11)

Kita harus menjalani segala hal yang telah ditetapkan Allah dengan sabar, ikhlas dan senantiasa bersyukur agar kelak kita dapat menggapai kemuliaan yang lebih tinggi, Insyaa Allah. Sebagaimana yang dituangkan dalam Q.S Ibrahim [14]:7 yang berbunyi,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S Ibrahim [14]:7)

Dwi Pranita

091002108

31/07/2021
Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on X
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://dppai.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/07/DPPAI-2022.png 0 0 Ridho Frihastama https://dppai.uii.ac.id/wp-content/uploads/2022/07/DPPAI-2022.png Ridho Frihastama2021-07-31 08:00:572021-07-31 22:29:26Bolehkah Berpasrah Saat Pandemi?

Pages

  • Beranda Utama
  • Buku Eksistensi Pemuda Muslim Digital
  • Buku Pembinaan Keagamaan
  • Buku-Buku DPPAI
  • Buletin Al-Rasikh
  • Buletin Al-Rasikh 2022
  • Buletin Al-Rasikh 2023
  • Daftar Ulang
  • Dakwah Dosen Tendik UII
  • Formulir Pengislaman
  • GALERI
  • Informasi Ujian Remidi PNDI
  • Kata Pengantar
  • Kententuan Penulisan Al-Rasikh
  • Konsultasi Keislaman
  • Konsultasi Keislaman Baru
  • Kumpulan Hadis TAFAQUH
  • Kumpulan Laman
  • Lembaga Dakwah
  • Lingkup Kegiatan
  • Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI)
  • Pelatihan Dakwah Masyarakat (PDM)
  • Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD)
  • Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD) – Lama
  • Pelatihan Pengembangan Diri (PPD)
  • PEMBINAAN
  • Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI)
  • Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI) (copy)
  • Ruang Berita DPPAI
  • Struktur Organisasi
  • TAFAQUH
  • Tentang Organisasi
  • Tulisan Al-Islamiyah
  • Visi Misi & Strategi

Categories

  • Akhlaq
  • Al-Islamiyah
  • Aqidah
  • Artikel Dakwah Tendik
  • Berita
  • Berita Universitas
  • BTAQ dan PI
  • Buletin Al-Rasikh
  • Data Peserta
  • Fiqh
  • Hasil Ujian
  • Ibadah
  • Kegiatan
  • Lainnya
  • ONDI
  • Pengumuman
  • Pesantrenisasi
  • Pesantrenisasi I
  • Pilihan
  • Uncategorized

Archive

  • Maret 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Juli 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • Maret 2021
  • Desember 2020
  • November 2020
  • Oktober 2020
  • September 2020
  • Agustus 2020
  • Juli 2020
  • Maret 2020
  • Desember 2019
  • November 2019
  • Oktober 2019
  • Mei 2019
  • Desember 2018
  • Juli 2018
  • Juni 2017
  • Maret 2017
  • Februari 2017
  • Januari 2017

Gedung Masjid Ulil Albab Lt.3
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: 0274-898444 Ext. 2405
Whatsapp: +62 815-8881-364
Email: [email protected]

 

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2021.

© Hak Cipta 2024 - Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam UII | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Konten dimutakhirkan 10 Januari 2025
  • Link to Facebook
  • Link to WhatsApp
  • Link to Instagram
  • Link to Youtube
Link to: Dosa Besar Berputus Asa dari COVID-19 Link to: Dosa Besar Berputus Asa dari COVID-19 Dosa Besar Berputus Asa dari COVID-19 Link to: Birrul Waalidain (Berbakti Kepada Orang Tua) Link to: Birrul Waalidain (Berbakti Kepada Orang Tua) Birrul Waalidain (Berbakti Kepada Orang Tua)
Scroll to top Scroll to top Scroll to top