• Link to Facebook
  • Link to WhatsApp
  • Link to Instagram
  • Link to Youtube
Contact Us: 0274-898444 Ext.2405
Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam
  • PEMBINAAN
    • Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD)
    • Pelatihan Pengembangan Diri (PPD)
    • Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI)
    • Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI)
    • Pelatihan Dakwah Masyarakat (PDM)
  • LAYANAN
    • Informasi Ujian Remidi PNDI
    • FAQ Pembinaan Keagamaan
    • Konsultasi Keislaman
    • Formulir Pengislaman
  • DOWNLOAD
    • Buku-Buku DPPAI
    • Buku Pembinaan Keagamaan
    • Kumpulan Hadis TAFAQUH
    • Buletin Al-Islamiyah
    • Buletin Al-Rasikh
  • PROFIL
    • Tentang Organisasi
    • Struktur Organisasi
  • Click to open the search input field Click to open the search input field Search
  • Menu Menu

BELAJAR MENASEHATI DARI IMAM ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah adalah ulama besar pada masa tabi’in (generasi setelah sahabat Rasulullah Saw). Pendiri Madzhab Hanafi ini memiliki nama lengkap Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bin Zautha. Imam Abu Hanifah dilahirkan di kota Kufah pada 699 M dari keluarga pebisnis kaya yang taat. Maka tidak heran jika Imam Abu Hanifah juga menjadi pebisnis yang mengikuti darah ayahnya. Kakeknya masuk Islam pada zaman Umar bin Khattab lalu hijrah ke Kufah dan menetap di sana.

Imam Al-Dzahabi berkata, “Dia seorang Imam, faqihul millah (ahli fiqihnya millah ini), ulamanya Iraq, Abu Hanifah Nu’man bin tsabit bin Zautha, At-Taimi, Al-Kufi, Maula Bani Tayyimullah bin Tsa’labah. Disebutkan juga bahwa beliau keturunan Persia.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/390)

Syaikh Al-Taqi Al-Ghazi berkata, “Dialah imamnya para imam, penerang bagi umat, lautan ilmu dan keutamaan, ulamanya Iraq, ahli fiqih dunia seluruhnya, orang setelahnya menjadi lemah di hadapannya, dan yang semasanya, belum pernah mata melihat yang semisalnya, belum ada seorang mujtahid mencapai derajat seperti kesempurnaan dan keutamaannya.” (Ath-Thabaqat As-Sunniyah fi Tarajim Al-Hanafiyah, Hal. 24)

Nu’man bin Tsabit bin Zautha dijuluki Abu Hanifah karena suci dan lurus, karena sejak kecil beliau sangat sungguh-sungguh dalam beribadah, berakhlak mulia, serta menjauhi perbuatan-perbuatan dosa dan keji. Dan pemikiran fiqihnya dinamakan Madzhab Hanafi.

Cerita dimulai ketika Imam Abu Hanifah melakukan perjalanan seperti biasa dalam rangka berdakwah. Pagi itu cerah sekali namun Imam Abu Hanifah mendengar keluhan dari seorang pemuda dari kamarnya dengan jendela yang masih terbuka. Pemuda tersebut mengeluh sambil menangis tersedu-sedu. Imam Abu Hanifah sayup-sayup mendengar sumber suara tersebut.

“Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, sepertinya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku. Sejak dari tadi belum datang sesuap makanan pun di kerongkonganku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, manakah hati yang mau berbelas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun sedikit.”

Mendengar keluhan seperti ini, Imam Abu Hanifah langsung merasa iba. Ia kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keping uang untuk diberikan kepada pemuda tersebut. Sesampainya di depan rumah, Imam Abu Hanifah langsung menaruh bungkusan yang ia bawa di depan pintu. Kemudia Imam Abu Hanifah melanjutkan perjalanannya.

Ketika ada bungkusan yang tergeletak di depan rumahnya, pemuda tersebut kaget bukan main melihatnya. Seakan-akan keluhan dan tangisannya didengarkan dan dikabulkan oleh Allah I. Pemuda tersebut bergegas membuka bungkusan tersebut yang ia tidak tahu darimana datangnya. Di dalamnya ternyata ada beberapa keping uang dan sepucuk kertas.

Kertas tersebut bertuliskan, “Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak perlu mengeluh akan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah. Cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa wahai kawan, akan tetapi berusahalah terus.”

Demikianlah surat yang ditulis oleh Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah menasehati pemuda tersebut dengan tetap memberinya kebutuhan selama sehari. Dengan harapan menyemangati agar pemuda tersebut mencari nafkah dengan mandiri untuk keesokan harinya.

Beberapa hari kemudian Imam Abu Hanifah melewati jalan itu lagi. Betapa terkejutnya ia sesampainya di dekat rumah pemuda itu. Ternyata pemuda itu masih mengeluh dengan suara yang bahkan lebih keras lagi.

“Ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Engkau tidak memberi, akan lebih sengsaralah hidupku.”

Mendengar keluhan pemuda tersebut membuat Imam Abu Hanifah putar arah dan kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keping uang seperti kemarin. Sesampainya di dekat rumah pemuda, Imam Abu Hanifah meletakkan bungkusan tersebut di depan pintu persis seperti yang dilakukannya kemarin hari.

Melihat ada bungkusan di depan pintunya, pemuda tersebut girang segirang-girangnya. Ia menyangka bahwa do’anya didengar dan dikabulkan. Hanya dengan berdo’a dan mengeluh maka uang pun akan datang dengan sendirinya. Seperti halnya hari kemarin, pemuda itu membuka bungkusan dan melihat beberapa keping uang dan sepucuk surat.

“Hai kawan, bukan begitu caranya memohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Itu malas namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah I. Sungguh Allah tidak ridho melihat orang pemalas dan suka putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan.. jangan berbuat demikian. Jika anda ingin senang, anda harus bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak disuruh duduk diam dan tidak seharusnya demikian pula, akan tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang yang malas bekerja.”

Membaca isi surat yang cukup menohok tersebut, pemuda itu diam sejenak untuk menghela nafas, kemudian meneruskan membaca. “Oleh karena itu carilah pekerjaan yang halal untuk mencukupi kehidupanmu. Berikhtiarlah sebisa mungkin dengan tetap memohon pertolongan Allah. Insya Allah anda akan mendapat pekerjaan selama anda tidak berputus asa. Carilah segera pekerjaan, saya doakan semoga anda berhasil.”

Kalimat-kalimat terakhir dari surat itu membuat pemuda itu terdiam sesaat. Ia menyadari kesalahan apa yang ia telah lakukan. Ia selalu mengharapkan belas kasihan dan rasa iba dari orang lain untuk mencukupi kebutuhannya. Ia sadar bahwa ia malas dan suka mengeluh dan berjanji untuk berusaha mencukupi kebutuhannya secara mandiri. Keesokan harinya ia keluar dari rumah untuk mencari pekerjaan yang halal dan berkah tentunya.

Dari cerita di atas kita dapat memetik sebuah hikmah yang sangat berlian dari seorang ulama besar. Bagaimana seseorang Imam Abu Hanifah menasehati tanpa mengecilkan perasaan dan merendahkan. Sudah seharusnya seperti itulah kita sebagai saudara seiman untuk menasehati dalam kebaikan.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasi. Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” (Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)

Kajian di atas sangat relevan untuk zaman sekarang dengan kemajuan teknologi informasi dan kemudahan akses lewat peranngkat gawai. Dimana setiap orang mampu mempublikasikan segalanya yang mereka inginkan. Miris sekali penulis rasakan jika ada orang yang ingin menasehati namun lewat instagram story, status facebook, cuitan di twitter dan lain sebagainya.

Hikmah selanjutnya yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bagaimana Imam Abu Hanifah menasehati tanpa mencaci maki. Ia menasehati dengan perkataan yang sopan dan santun. Tanpa melukai perasaan sedikitpun.

Fir’aun adalah raja yang keras dan kejam. Ia tidak segan-segan menyiksa dan membunuh siapapun yang tidak menuruti perintahnya. Namun bagaimanapun juga Allah I memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk  menasehatinya dengan lemah lembut.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Al-Thaha:43-44)

Semoga dengan ini kita mampu menasehati saudara-saudara kita dengan menghadirkan rasa tentram dan damai. Bukan malah dengan penuh singgungan yang akhirnya malah membuat permusuhan. Wallahua’lam

Agung Permana Bhakti

Santri Pondok Pesantren UII

Mutiara Hikmah

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”

(QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55).

Pages

  • Beranda Utama
  • Buku Eksistensi Pemuda Muslim Digital
  • Buku Pembinaan Keagamaan
  • Buku-Buku DPPAI
  • Buletin Al-Rasikh
  • Buletin Al-Rasikh 2022
  • Buletin Al-Rasikh 2023
  • Daftar Ulang
  • Dakwah Dosen Tendik UII
  • Formulir Pengislaman
  • GALERI
  • Informasi Ujian Remidi PNDI
  • Kata Pengantar
  • Kententuan Penulisan Al-Rasikh
  • Konsultasi Keislaman
  • Konsultasi Keislaman Baru
  • Kumpulan Hadis TAFAQUH
  • Kumpulan Laman
  • Lembaga Dakwah
  • Lingkup Kegiatan
  • Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI)
  • Pelatihan Dakwah Masyarakat (PDM)
  • Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD)
  • Pelatihan Kepemimpinan dan Dakwah (PKD) – Lama
  • Pelatihan Pengembangan Diri (PPD)
  • PEMBINAAN
  • Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI)
  • Pendalaman Nilai Dasar Islam (PNDI) (copy)
  • Ruang Berita DPPAI
  • Struktur Organisasi
  • TAFAQUH
  • Tentang Organisasi
  • Tulisan Al-Islamiyah
  • Visi Misi & Strategi

Categories

  • Akhlaq
  • Al-Islamiyah
  • Aqidah
  • Artikel Dakwah Tendik
  • Berita
  • Berita Universitas
  • BTAQ dan PI
  • Buletin Al-Rasikh
  • Data Peserta
  • Fiqh
  • Hasil Ujian
  • Ibadah
  • Kegiatan
  • Lainnya
  • ONDI
  • Pengumuman
  • Pesantrenisasi
  • Pesantrenisasi I
  • Pilihan
  • Uncategorized

Archive

  • Maret 2024
  • Desember 2023
  • November 2023
  • Juli 2023
  • Maret 2023
  • Februari 2023
  • November 2022
  • Oktober 2022
  • September 2022
  • Juli 2022
  • Juni 2022
  • April 2022
  • Maret 2022
  • Februari 2022
  • Januari 2022
  • November 2021
  • Oktober 2021
  • September 2021
  • Agustus 2021
  • Juli 2021
  • Juni 2021
  • Mei 2021
  • Maret 2021
  • Desember 2020
  • November 2020
  • Oktober 2020
  • September 2020
  • Agustus 2020
  • Juli 2020
  • Maret 2020
  • Desember 2019
  • November 2019
  • Oktober 2019
  • Mei 2019
  • Desember 2018
  • Juli 2018
  • Juni 2017
  • Maret 2017
  • Februari 2017
  • Januari 2017

Gedung Masjid Ulil Albab Lt.3
Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang km. 14,5 Sleman, Yogyakarta 55584 Indonesia

Telepon: 0274-898444 Ext. 2405
Whatsapp: +62 815-8881-364
Email: [email protected]

 

Akreditasi Institusi Unggul. Universitas Islam Indonesia telah mendapatkan Akreditasi Institusi Unggul dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tahun 2021.

© Hak Cipta 2024 - Direktorat Pendidikan dan Pembinaan Agama Islam UII | Pengelolaan Situs Web | Pernyataan Sangkalan | Konten dimutakhirkan 10 Januari 2025
  • Link to Facebook
  • Link to WhatsApp
  • Link to Instagram
  • Link to Youtube
Link to: PEMUDA IDAMAN Link to: PEMUDA IDAMAN PEMUDA IDAMAN Link to: UJIAN TUHAN MELALUI LION AIR JT 610 Link to: UJIAN TUHAN MELALUI LION AIR JT 610 UJIAN TUHAN MELALUI LION AIR JT 610
Scroll to top Scroll to top Scroll to top