UII Kuatkan Strategi Internalisasi Nilai Keislaman yang Aplikatif dalam Perkuliahan

2015.1.26. internalisasi nilai islam

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang sangat diperlukan, setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, memberikan banyak kemudahan, Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga banyak digunakan oleh masyarakat untuk sesuatu yang sia-sia bahkan justru membuat manusia semakin jauh dari agama.

Demikian disampaikan oleh Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., saat membuka acara Diskusi Internalisasi Nilai-nilai Islam dalam Proses Belajar Mengajar yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII Senin (26/1) di Ruang Auditorium Fakultas Teknik Industri UII. “Semakin tinggi Ilmu pengetahuan seseorang terkadang justru menjadikan semakin jauh dari agama karena merasa sudah mampu menjelaskan semuanya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Padahal di atas langit masih ada langit, seberapa pun ilmu kita sudah pasti Ilmu Allah akan jauh lebih tinggi.”Papar Dr. Harsoyo.

Dr. Harsoyo juga menjelaskan bahwa sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung nilai-nilai Islam, tentunya Universitas Islam Indonesia (UII) harus menjadikan nilai-nilai Islam sebagai ruh dalam pendidikan yang berjalan di UII. “Dosen sebagai pendidik yang merupakan unsur utama dalam proses transfer of knowledge kepada mahasiswa, terlebih dahulu harus mencerminkan nilai-nilai Islam dalam dirinya. Internalisasi nilai-nilai Islam dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan dosen dapat melakukan improvisasi sesuai kebutuhan di setiap mata kuliah yang diajarkan. Oleh karena itu, kreatifitas dosen dalam hal ini sangat dituntut agar mampu membawa mahasiswa untuk lebih antusias dalam mempelajari dan menerapkan nilai-nilai Islam baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menerapkan bidang ilmu yang dipelajari.” Jelas Dr. Harsoyo.

Fathul Wahid, ST.,M.Sc.,Ph.D. yang menjadi pembicara dalam diskusi tersebut memaparkan bahwa Pendidikan Islam adalah proses pengajaran, bimbingan, pelatihan, dan keteladanan, untuk mencapai pertumbuhan kepribadian manusia dalam semua aspeknya, baik intelektual, spiritual, imajinatif, keilmuan, bahasa, dan sebagainya, dilakukan secara individual maupun kolektif, melalui cara mendorong seseorang guna mencapai kesempurnaan, sehingga sampai pada tujuan akhir yaitu pengabdian yang sempurna kepada Allah. Hal ini mengacu pada hasil Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang digelar di Mekkah pada tahun 1977.

Dijelaskan Fathul Wahid, dalam penerapannya, proses Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan beberapa tahapan sebagaimana dijelaskan oleh ulama-ulama Islam terdahulu. Di antaranya adalah tahapan Islamisasi ilmu pengetahuan yang dikemukakan oleh Naquib Al Attas. Pertama, perlunya mengisolisir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat, kemudian tahapan selanjutnya adalah memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan.

Namun demikian, untuk memperoleh konsep dan paradigma yang disepakati dalam proses internalisasi nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan di UII, membutuhkan waktu dan tahapan yang cukup panjang, tidak cukup satu tahun dan tidak akan selesai jika hanya dibuat oleh satu orang, perlu adanya diskusi bersama antar elemen di UII. “Hal tersebut dapat terwujud bergantung pada internal UII sendiri apakah para dosen memiliki kepedulian atau tidak, memiliki kemauan untuk memperdalam pengetahuan Islam, bahasa arab, dan wawasan yang luas, serta meningkatkan kapabilitas sesuai disiplin ilmunya masing-masing.” Tutup Fathul Wahid yang merupakan Kepala Badan Pengembangan Akademik UII sekaligus Dosen FTI UII tersebut.