Selaraskan Nilai Islam dan Ilmu Pengetahuan, DPPAI UII Gelar Kuliah Dirasah Islamiyah

Sebagai universitas yang mengemban risalah nilai-nilai Islam, Universitas Islam Indonesia (UII) dituntut tidak hanya membekali para civitas akademikanya dengan berbagai ilmu pengetahuan modern, namun juga dengan pengamalan Wahyu Illahi dan Sunnah Nabi. Kedua hal tersebut dinilai sangat penting dimiliki oleh para civitas akademika UII sebab merekalah yang akan menjadi cendekiawan muslim dan pemimpin bangsa di masa depan. Oleh karenanya, diperlukan upaya penyelarasan antara penguasaan terhadap nilai-nilai Islam yang menjadi semangat UII dan ilmu pengetahuan sebagai bekal membangun peradaban bangsa yang maju. Sumber-sumber ke-Islaman hendaknya dapat dikaji selaras dengan pengajaran ilmu-ilmu lain. Sebagaimana tergambar dalam Studium General Kuliah Dirasah Islamiyah (KDI) yang digelar oleh Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII pada Jumat (18/4) di Gedung Muhammad Hatta Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang Km 14,5.

Pimpinan UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc. sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh DPPAI UII tersebut dan diharapkan kegiatan tersebut dapat menjadikan mahasiswa dan masyarakat secara umum memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap ilmu dan agama karena hal tersebut merupakan cita-cita para ulama dan cendekiawan muslim ketika mendirikan Sekolah Tinggi Islam yang kemudian berubah menjadi UII. “Para pendiri UII seperti Bung Hatta, Kahar Mudzakkir dan lainnya menginginkan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan tegak, agamanya baik dan ilmu pengetahuannya mapan”, ungkapnya.

“Kegiatan semacam ini harus kita dukung agar masyarakat khususnya mahasiswa UII memahami Islam tidak-lah hanya sekedar shalat dan puasa. Walaupun saat ini jumlah pesertanya masih terbatas jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa UII, namun semoga kegiatan ini dapat menjadi permulaan yang baik”, lanjut Ir. Harsoyo.

Senada dengan hal tersebut, Direktur DPPAI UII  dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S, dalam sambutannya mengutip sebuah pernyataan, “Jadilah ulama yang ilmuan, bukan ilmuan yang ulama, seperti dicontohkan para ulama terdahulu di mana ilmu agama sudah dipelajari dengan baik sejak kecil sehingga ketika ia mempelajari ilmu umum, nilai-nilai Islam secara otomatis tercermin dalam ilmu dan perbuatannya, sehingga tidak perlu lagi menyisipkan nilai-nilai Islam dalam ilmu yang dipelajari karena ruh Islam sendiri sudah mengiringi proses menuntut ilmu.”

Peserta KDI pada tahun ini berjumlah 120 orang yang terdistribusi dalam 4 kelas, yaitu Ulumul Qur’an (74 peserta), Ulumul Hadits (60 Peserta), Ushul Fiqh (66 Peserta), dan Bahasa Arab (78 peserta). Setiap kelas diampu oleh dosen-dosen yang mayoritas adalah lulusan perguruan tinggi di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, dan sebagainya.