Daging Qurban Harus Penuhi Kriteria “ASUH”

Ibadah penyembelihan hewan Qurban yang rutin dilakukan setiap tahun oleh masyarakat muslim ternyata masih menyisakan masalah. Masalah itu antara lain seperti pengelolaan yang masih belum sesuai dengan syariat maupun belum memenuhi standar kesehatan (medis). Di Yogyakarta, Dinas Pertanian Sleman mencatat setiap datangnya Idul Adha, ada sekitar 100 sapi yang disembelih di kabupaten ini mengandung penyakit cacing hati.

“Penyebabnya karena seleksi hewan dan proses pengelolaannya tidak benar, sehingga sapi yang hendak dikurbankan terjangkit penyakit membahayakan,” ujar rektor UII, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec pada kajian Pengelolaan Hewan Qurban dalam Tinjauan Syar’i dan Medis, Rabu (9/10/2013) di GKU Prof. Sardjito kampus terpadu UII.

Kajian yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) ini diikuti segenap takmir masjid sekitar UII dan sejumlah perwakilan pegawai di lingkungan UII. Kajian ini menghadirkan dua narasumber yaitu drh. H. Muji Slamet dari Dinas Peternakan dan Pertanian Bantul dan direktur DPPAI, dr. H. Agus Taufiqurrahman, M. Kes., Sp.S.

Salah satu narasumber, drh. H. Muji Slamet mengatakan daging hewan qurban harus memenuhi syarat “ASUH”, yakni aman, sehat, utuh, dan halal. Aman maksudnya tidak mengandung bibit penyakit, racun (toksin), mikotoksin, residu obat dan hormon, cemaran logam berat, cemaran pestisida, cemaran zat berbahaya serta unsur-unsur lain yang dapat menyebabkan penyakit dan mengganggu kesehatan manusia. Sehat, artinya mengandung zat-zat yang berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Utuh,  maksudnya tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian dari luar selain yang dinyatakan dalam keterangan produk. Dan halal, yakni hewan disembelih dan ditangani sesuai dengan syari`at agama Islam.

H. Muji menjelaskan ada beberapa contoh penyakit yang dapat ditularkan melalui daging yang tidak higienis. Pertama berupa bakteria meliputi Anthrax, Brucellosis, Salmonellosis, Tuberculosis. Kedua, berupa parasit  meliputi Toxoplasmosis, Taeniasis & Cysticercosis, Fascioliasis. Ketiga berupa virus di antaranya PMK, Rabies, BSE atau sapi gila.

Untuk menghindari berbagai penyakit tersebut, drh. Muji mengarahkan agar melakukan seleksi dan pemeriksaan hewan qurban. Seleksi  pertama tanyakan daerah asal hewan qurban. Hewan yang paling bagus menurutnya berasal dari daerah pegunungan karena sedikit yang mengidap cacing hati. Cacing ini biasanya menjangkiti hewan yang tinggal di dataran rendah dan banyak airnya. Seleksi kedua adalah dengan membeli hewan qurban dari daerah yang bebas penyakit menular

“Kalau setelah dipotong ternyata baru ditemukan ada cacing hati, maka dibuang bagian yang rusak. Kalau banyak rusaknya sebaiknya langsung dikuburkan saja dagingnya,” tegasnya.

 



 
BANTUAN INFORMASI?